Kuesioner
-

SAGU, TANAMAN POTENSIAL DALAM MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DAN MENJAGA KESEHATAN

SAGU, TANAMAN POTENSIAL DALAM MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN

DAN MENJAGA KESEHATAN

Oleh : Syartiwidya (Mahasiswa Program Doktor Ilmu Gizi Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor)

 

 

   Indonesia merupakan negara yang memiliki luas areal tanaman sagu terluas di dunia, yaitu sekitar 5.2 juta hektar atau sekitar 50 persen areal sagu di dunia (Bintoro 2016). Menurut Peraturan Menteri Pertanian No. 94 tahun 2013 tentang SOP sertifikasi benih dan pengawasan mutu benih tanaman sagu, bahwa sagu sangat potensial dalam mendukung ketahanan pangan nasional dan didayagunakan bagi pengelolaan, pengendalian dan pelestarian lingkungan, serta dikembangkan sebagai bahan pangan alternatif bagi masyarakat Indonesia selain beras. Hal ini mendukung Perpres No. 22 tahun 2009 tentang kebijakan penganekaragamn konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal sebagai dasar pemantapan ketahanan pangan untuk peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan pelestarian Sumber Daya Alam (SDA).

Potensi sumber daya alam ini dapat digerakkan dalam pencapaian ketahanan pangan melalui upaya penganekaragaman pangan. Sistem pangan yang berkelanjutan akan mendukung ketahanan pangan, melalui penggunaan secara optimal sumber daya alam dan manusia, dapat diterima dan mudah diakses, ramah lingkungan, dan memenuhi kebutuhan gizi yang cukup, aman, sehat dan tersedia untuk sekarang dan masa yang akan datang. Beberapa daerah penghasil sagu yaitu Papua, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku, Kalimantan dan Riau (BPS 2012). Luas areal sagu di Provinsi Riau pada tahun 2015 mencapai 82.713 Ha, yang terdiri dari perkebunan rakyat seluas 62.513 Ha (75.57%) dan perkebunan besar swasta seluas 20.200 Ha (24.43%). Penyebaran areal sagu di Provinsi Riau terdapat di 5 kabupaten, salah satunya adalah Kabupaten Kepulauan Meranti yang memiliki luas areal tanaman sagu terluas yaitu sebesar 41.130 Ha dan dijadikan sebagai kawasan pengembangan ketahanan pangan nasional (Disbun Riau 2016).  Sagu sebagai penghasil pati terbesar menjanjikan produksi pati sepanjang tahun. Setiap batang bisa memproduksi sekitar 200 kg tepung sagu basah per tahun, atau 25 hingga 30 ton per Ha (Dishutbun Kepulauan Meranti 2014). 

Sagu (Metroxylon sp) tergolong dalam kelompok palmae yang banyak tumbuh diwilayah Asia Tenggara. Jenis yang banyak tumbuh di Kabupaten Kepulauan Meranti adalah sagu duri, sagu sengke dan sagu bemban. Rumpun sagu terdapat 1-8 batang, pada setiap pangkal batang tumbuh 5-7 batang anakan. Batang sagu berbentuk silinder yang berfungsi untuk mengakumulasi /menumpuk karbohidrat dengan tinggi 10-15 meter dan diameter 35-40 cm. Sagu mulai berbunga 8-15 tahun tergantung pada kondisi tanah, tinggi tempat dan varietas (Flach 1997). Komponen  dominan dari sagu adalah pati atau karbohidrat. Pati berupa butiran atau granula yang berwarna putih mengkilat, tidak berbau dan tidak mempunyai rasa. Pati sagu yang berasal dari  hasil ekstraksi empulur/batang sagu bebas dari bahan kimiawi, merupakan ingridien alami, layak dikonsumsi sebagai bagian dari diet setiap hari dan memiliki fungsi tertentu dalam metabolisme tubuh (Papilaya 2008). Komposisi kimia dalam setiap 100 gram pati sagu yang berasal dari Kabupaten Kepulauan Meranti yaitu energi: 326,24, karbohidrat: 80,83, lemak:0,34, protein: 0,09, kadar air: 18,70, kadar abu: 0,04, pati:, 77,87 sdan serat pangan: 3,13.

Selain itu sagu memiliki potensi kesehatan dilihat dari keunggulannya dibandingkan beras dari segi gizi dan kesehatan, yaitu (1) memiliki glycemic index (GI) yang rendah (28 untuk mie sagu, makaroni sagu, 48 untuk sagu lempeng dan 53 untuk bubur sagu) sehingga tidak cepat meningkatkan kadar glukosa darah (Hariyanto 2014; Heliza et al. 2006) (2) meningkatkan kekebalan tubuh, (3) mengurangi risiko kanker usus dan paru-paru, (4) mengurangi kegemukan dan (5) mempermudah buang air besar (Flach 1993).

Hal ini sejalan dengan penelitian yang telah saya lakukan pada masyarakat di Kabupaten Kepulauan Meranti, yaitu pada beberapa desa di Kecamatan Tebing Tinggi Timur dan Tebing Tinggi Barat. Wawancara yang dilakukan meliputi frekuensi mereka mengonsumsi sagu, sejak kapan dan seberapa banyak mereka mengkonsumsi dalam sehasri atau seminggu. Ternyata rata-rata responden sudah mengonsumsi sagu sejak kecil dan masih mengonsumsi sagu sampai sekarang, minimal 3-6 x dalam seminggu. Selain wawancara dilakukan juga pemeriksaan kesehatan meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan dan kadar gula darah. Dari 180 responden yang diwawancara, mereka yang mengonsumsi sagu sejak kecil sebanyak 160 orang atau 88,9% memiliki kadar gula darah normal dibawah 140 mg/dL dan memiliki tubuh dengan indeks massa tubuh (IMT) normal (18-25), yaitu 134 responden atau 77,4%.

Berdasarkan penelitian yang telah saya lakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa sagu selain sebagai pangan alternatif sumber karbohidrat pengganti beras dalam penganekaragaman pangan lokal guna mendukung ketahanan pangan, juga merupakan sumber pangan yang baik untuk menjaga kesehatan, khususnya kadar gula darah dan menjaga tubuh tetap ideal dengan berat badan dan tinggi seimbang. Sehingga kedepannya diperlukan berbagai upaya secara sistematis dan terintegrasi yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan dan penegakan hukum terhadap budidaya sagu dan pengembangan sagu ke arah industri hilir guna pemanfaatan yang lebih optimal. TERIMA KASIH

Komentar Disqus

blog comments powered by Disqus

Kontak Kami

Jl. Kuantan Raya Nomor 27 Pekanbaru - Riau
Telp. (0761) - 20820
diskepang@riau.go.id / infodiskepang@riau.go.id

Back to Top